Kamis, 03 Juli 2008

Belajar OK, Dakwah YES!

Kalo ada yang bilang dakwah bikin prestasi belajar jeblok, itu mah kuno. Kalo ada yang asal ngecap, dakwah entar aja kalo udah selesai belajarnya, itu omongan nggak bermutu. Eits..jangan kesel dulu deh. Sebab obrolan kayak gitu, selalu jadi tameng bagi teman remaja yang emoh ngelakuin dakwah. Nah, sobat biar kamu nggak salting atas tuduhan ini, mendingan simak sampe abis buletin yang selalu dinanti ribuan remaja ini. Gleg!

Dakwah Wajib ato Kagak ?

Sobat muda, untuk ngatakan dakwah itu wajib atao kagak, nggak bisa dong dicari hukumnya lewat polling-polling-an. Imud sendiri ngadain polling bukan untuk mencari keabsahan jawaban, tapi cuman pengen sekedar tahu pendapat sobat muda tentang suatu masalah. Conto aja, di edisi kali ini, Imud nanyai mereka seputar dakwah itu wajib atau kagak. Hasilnya, 85% dari 80 responden ngejawab dakwah itu wajib dan tersisa 15% menjawab tidak wajib. Yo’ coba kita telusuri saja, bagaimana hukum dakwah itu menurut Islam.

Abdurrahman al-Baghdady dalam bukunya Dakwah Islam dan Masa Depan Umat, halaman 85 menjelaskan bagaimana hukum syara’ telah mewajibkan kaum muslimin untuk berdakwah. Secara individual, dakwah itu wajib sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah,….” (TQS. Fushilat 33)

Dan juga Sabda Rasulullah SAW, yang artinya : “Siapa saja diantara kamu melihat kemunkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka ubahlah dengan lidahnya. Kalau juga tidak sanggup maka dengan hatinya. Ini adalah selemah-lemah iman” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dari Abi Said al-Khudry)

Cuman untuk mengetahui status, predikat suatu perbuatan terkatogori wajib, sunnah, makruh, mubah atau haram, tidak bisa dilihat dari bentuk kalimat dalam sebuah ayat ataupun hadits. Seikh Muhammad Muhammad Ismail dalam kitabnya Fikrul Islamy, menerangkan gimana munculnya status hukum suatu perbuatan dari sebuah ayat atau hadits. Beliau menyebutkan bahwa status hukum itu bisa muncul bukan dari bentuk kalimat ayat atau hadits melainkan dari adanya indikasi-indikasi (qarinah) yang terkandung di dalam teks hadits atau ayat.

Maksudnya begini, hukum syara tentang dakwah, kita bisa tahu bahwa hukumnya wajib, setelah kita tahu indikasi (qarinah) dari ayat QS. Funshilat 33 dan hadits diatas tadi. Di ayat tersebut didahului dengan kata tanya “Wa Man Ahsana” yang artinya “Dan siapakah yang lebih perkataanya”. Dalam kaidah bahasa arab sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jalalain, bahwa kata-kata “wa man ahsana….” merupakan harf istifham inkary (kata tanya ingkar) yang maknanya “la ahadan ahsana” (tidak ada yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada agama /Islam) atau dengan kata lain itu ada pujian bagi mereka yang berdakwah.

So, dari situ aja udah jelas qarinah tentang wajibnya dakwah. Gimana, tambah ngerti atau tambah pusing? Atao malah nggak ngerti blas ? Kalo kamu tambah pusing, sabar aja friend, kali aja jalan kamu untuk ngerti Islam emang harus berakit-rakit dulu alias bersakit-sakit kepala dulu. (backsound: padahal yang nulis juga ikut pusing…kasihan deh, aku)

Indikasi (qarinah) itu makin jelas kalo kamu simak, satu hadits dari Rasulullah SAW, berikut, yang artinya :
“Demi diriku yang ada ditangan-Nya, apakah kamu menyeru berbuat ma’ruf dan mencegah kemunkaran (dakwah), ataukah Allah SWT, akan menimpakan kepadamu siksaan yang apabila kamu berdo’a kepada-Nya, maka Allah SWT, tidak akan memperkankan do’amu’” (HR. Turmudzi dari Huzaifah bin Yaman)

Sobat bisa lihat dan fahami sendiri di hadits diatas, qarinahnya begitu jelas. Yakni Rasulullah mendahului dengan sumpah (“Demi diriku yang ada ditangan-Nya”), kemudian kita sebagai umatnya dikasih pilihan antara melakukan dakwah atau Allah akan menimpakan azab (“apabila kamu berdo’a kepada-Nya, maka Allah SWT, tidak akan memperkenankan doamu”). Adanya celaan (dzam) dan sumpah Rasul kalo kita nggak dakwah, merupakan qarinah yang nggak bisa dipungkiri bahwa dakwah adalah wajib. Otree?

What’s Next ?

Ok deh, setelah kamu ngeh bahwa hukum dakwah itu wajib menurut syariat Islam, What’s Next? Buat kamu yang emang takut ama azab Allah dan sebagai bentuk ketaatan kamu kepada Allah, pasti akan dilakuin tuh dakwah. Tapi tunggu, ternyata masih besar juga lho prosentase sobat kita yang nggak ngelakuin dakwah. Liat 59% atau 47 orang masih belum ngelakuin dakwah dan menyisakan 33 orang yang sudah berdakwah. Kamu perlu tahu juga nih friend, responden kita 80% adalah cewek. (hiii.hii, ada yang mesam-mesem, kena sentil tuh)

Tapi ada juga lho dari teman remaja yang dipolling ama Imud, ketika ditanya hukum dakwah, dan dia ngejawab wajib. Ternyata dari yang udah tahu hukumnya dakwah itu wajib, ada juga yang belum berdakwah. Menurut hitungan kita, ada sekitar 35 orang responden yang punya pendapat gitu, dan 45 responden menjawab sebaliknya alias dia tahu hukumnya dan akhirnya ngelakuin aktivitas itu.
Ini baru Te-O-Pe namanya. Hayo siapa mau niru…?

Emang konsekuensinya, bisa dikatakan cukup berat, ketika kita nggak ngelakuin dakwah atau kita tahu hukumnya tapi tidak ngelakuin. Coba aja sobat liat di sekitar kita, kemaksiatan yang makin menjadi-jadi, kemunkaran yang nggak ada batasnya, kejahilan yang bikin menggigil, semuanya itu akibat kita enggan melakukan dakwah. Tul nggak?

Maka dari itu, menunda buat ngelakuin dakwah, hanya akan menambah bobroknya diri, saudara, lingkungan bahkan negara ini.
Masak sih, kita diam aja kalo misal kemunkaran itu ada di depan mata kita? Jangan-jangan kita emang udah terserang virus EGP alias Emang Gue Pikirin. Kalo itu yang terjadi, wah itu tandanya kamu udah jadi manusia sekular.

Padahal kalo kamu mau bedain antara orang sekular dengan seorang muslim, itu jauuuuuuh banget. Kayak timur ama barat. Saking jauhnya, makanya Islam ngelarang kita bersikap sekular, yakni sikap meminggirkan Islam untuk ngatur kehidupan kita sehari-hari. Jelas nggak mungkin lah, gimana Islam mau dipisahin dari kehidupan. Lha wong, kita butuh ketenangan, ketentraman dan kedamaian. Yang semua itu hanya bisa kita dapatkan ketika kita pake syariat Islam untuk ngatur hidup keseharian kita. Iyo nggak?

Jelas sekali sobat, bahwa dakwah itu merupakan kebutuhan kita semua. Apalah jadinya, dunia ini tanpa dakwah. Aktivitas terendah dari kita berdakwah, seperti disebutkan hadits diatas tadi, mengingkari dalam hati. Nah, kalo kita mengingkari dalam ati aja nggak bisa, bagaimana kita mo berdakwah? Naga-naganya kita setuju ama kemaksiatan yang terjadi. Nggak nuduh sih, tapi memvonis (he…hee..he)

Nggak koq friend. Kita bisa bilang gitu karena teman remaja ketika ditanyai sikapnya kalo tahu temannya nggak dakwah, sebagian mereka menjawab EGP dan juga bilang Hak Asasinya dia. Tapi alhamdulillah 58% atau 47 remaja kita masih ada yang punya kesadaran baik untuk mengingatkan teman yang nggak dakwah. Mengingatkan teman yang nggak ngelakuin dakwah, juga merupakan bagian dari dakwah lho. Jadi jangan sungkan, takut, minder untuk ngingetin teman kamu yang belum berdakwah. Sebab hasil polling ada sekitar 47 orang yang belum berdakwah dari 80 responden seluruhnya. Kasihan khan ?

Dakwah? Easy Going aja lah !!

Kalo ada yang bilang gitu, kita patut bertanya ke dia, sampe dimana tingkat kepedulian dia terhadap saudaranya. Sebab, dakwah itu sejatinya merupakan wujud kasih sayang sesama kita. Ibaratnya, ketika kita mo menyelamatin teman kita yang mo masuk jurang, kita udah bilang ke dia, jangan masuk jurang, tapi dianya nekat aja sambil ngedekati bibir jurang, akhirnya terpaksa kita menarik tangannya dan akhirnya teman kita selamat.
Meski teman kita bilang, tangannya sakit gara-gara kita tarik tadi. Tapi coba apa yang terjadi, kalo kita biarin dia masuk jurang, sambil bilang EGP…Wah, alamat…tahlilan deh.

Gitulah sobat, kita nggak bisa tinggal diam terhadap maraknya kemaksiatan di depan kita. Meskipun kadang kalo kita mendakwahi orang, ada perasaan nggak enak atau orang yang kita dakwahi “sakit” hati, seperti teman yang kita tarik tangannya tadi. Lagi-lagi, pikirkan deh, apa yang terjadi lebih dari itu jika kita nggak ngelakuin kewajiban dakwah.

Apalagi nggak ngelakuin dakwah cari alasan sibuk sekolah atau kuliah. Apa dakwah itu memvorsir tenaga dan waktu, sehingga musti ninggalin dakwah hanya gara-gara belajar. Tulalit khan ?

Ada juga yang khawatir kalo dakwah nanti prestasinya menurun. Jujur aja jack, bener nggak sih prestasimu menurun karena dakwah. Jangan-jangan emang kamunya nggak belajar, sehingga sering dapat nilai delapan ngakak alias 3. Lagian jangan bawa-bawa dakwah dong, kalo emang kamunya nggak pinter-pinter banget ngatur waktu. Dakwah baru sebiji dua biji aja, lagaknya udah kayak manajer yang sok sibuk.

Sobat muslim, kalo mau dicari-cari alasan teman remaja ninggalin dakwah banyak banget. Bahkan kalo ditulis atu-atu, buletin ini nggak cukup. Tapi yang jelas, dakwah nggak bisa ditinggalin hanya karena alasan sepele dua pele. Apalagi alasan sibuk belajar atau masih skul, itu mah alasan yang kalo didengerin burung beo aja, bisa ketawa-ketiwi.

Kawan, Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya” (TQS. ar-Ra’du 11)

Then, siapa yang bisa ngubah diri kita jadi baik, kalo bukan kita sendiri. Demikian juga dengan lingkungan, masyarakat dan negara. Makanya, sekaranglah saat yang tepat untuk berubah. Yup, ketika kamu masih muda, ketika tenagamu banyak dibutuhkan. Ketika kamu masih kuat, tidak sebagaimana orang yang lanjut usia, apalagi yang sakit-sakitan, kebelakang untuk be-ol aja mereka harus ditolong orang lain. Kamu ? Jangankan ke belakang, ke depan, ke samping, ke bawah, keatas pun diladenin. (he..he..garing ya?). So, siapkan dirimu untuk menerima estafet dakwah.
Sekarang juga, jangan ditunda. Ok? (luky)

www.prayoga.net

Minggu, 25 Mei 2008

TEMU ALUMNUS FOSI

Assalamu'alaikum wr wb...
Bulan depan FOSI akan mengadakan seBuah kegiatan besar yang insyaAllah akan mempererat ukhuwah. yaitu temu Alumnus FOSI. Kepada seluruh alumnus UKM FOSI untuk hadir pada tanggal 22 Juni 2008. InsyaAllah qta akan bertemu dengan ikhwah dari angkatan duluuu bgt ampe angkatan sekarang..pengurus, kader, dsb. Jangan sampe ga datang coz kami para junior pengen bgt ketemu sm para senior yang udah melalang buana ke mana-mana.. tempat acaranya akan diberitahu berikutnya. oh ya, bagi alumnus atau siapapun yang baca pengumuman di blog ini harap disampaikan kepada Alumnus FOSI. don't miss it!!!
Wassalamu'alaikum wr wb...

Rabu, 23 April 2008

jum'at_white n koko day

Fosi mpunya aegnda baruuuuuuuu
tiap hari jum'at pengurus n anggota FOSI wajib or kudu pake jilbab berwarna white buat yang akhwatnya.
nah!yang ikhwan juga ada neh! wajib pake baju koko, ngarti kan yang dimaksud baju koko????, hehe......
insyaAllah antum wa antunna bakal dapat sms malamnya yang mengingatkan untuk white n koko day tersebut
semoga dapat dijalankan!
syukron,

Sabtu, 08 Maret 2008

SEBUAH RENUNGAN UNTUK AKTIVIS DAKWAH

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menaburkan kenikmatan dan kasih sayang-Nya kepada setiap insan yang ada di pelataran bumi ini. Walaupun kita sering berbuat maksiat kepada-Nya, tetapi Allah tetap saja mencurahkan kasih sayang-Nya. Sesungguhnya kasih sayang Allah lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Oleh karena itu, sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman, sudah sepatutnya kita memuja dan memuji-Nya sebagai tanda rasa syukur kepada-Nya
Selanjutnya, kepada Nabi dan Rasul, Muhammad bin Abdullah mari kita bersholawat kepadanya. Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin ‘abdika wanabiyyika warasuulikannabiyyil ummiyyi. (Ya Allah berikanlah sholawat kepada nabi Muhammad sebagai nabi-Mu, dan rasul-Mu, nabi yang ummi). Mudah-mudahan kita termasuk umat-Nya yang terbaik (Khoirul ummah) yang akan mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir nanti. Aamiin...!!!
Wahai saudaraku! Apakah antum termasuk aktivis dakwah? Ya, ana yakin antum adalah aktivis dakwah. Antum telah memilih jalan dakwah sebagai aktivitas kehidupan antum, selain kuliah dan lainnya, namun, sebenarnya antum juga sudah termasuk sebagai aktivis sosial, aktivis lingkungan, aktivis pendidikan, aktivis kesehatan, aktivis..., aktivis..., yang pastilah antum adalah orang yang berbuat kebaikkan dan mengajak atau menyeru kepada kebaikan dan menolak berbuat kemungkaran dan kemaksiatan. Apapun yang antum lakukan, tidak keluar dari koridor kebaikkan. Nah, karena antum adalah aktivis dakwah, mari kita renungkan kata-kata di bawah ini untuk mengetahuai sejauh mana kondisi kita sebenarnya. Tanyakan pada hati nuranimu!!!
Sudah benarkah niatmu terjun ke dunia dakwah ini?
Ini pertanyan penting yang harus dijawab oleh kita semua. Niat merupakan tolak ukur diterima atau tidaknya sebuah amal manusia. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw:
Sesungguhnya, diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijjrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang hendak dinikahinya maka ia akan mendapatkan apa yang ia tuju.
Hadist di atas sudah jelas tentang urgensi sebuah niat. Maka ana mengajak kepada saudara-saudariku untuk meluruskan niat. Jangan pernah terbesit pada diri antum bahwa bergabungnya antum di jalan dakwah ini karena dunia yang dikejar atau wanita yang diinginkan. Mari ber-ikhtimam bahwa dakwah adalah jalan hidupku untuk menegakkan al-Islam di muka bumi ini.
Apakah Antum merasa rugi terjun ke dunia dakwah ini?
Kata “Rugi” merupakan kata yang selalu dihindari oleh setiap manusia. Manusia selalu ingin mendapatkan keuntungan dan tidak mau pada kerugian. Aktivis-aktivis dakwah sering kali mengeluh dan menyalahkan dakwah sehinga akhirnya keluar dari jalan dakwah ini (insilakh). Keluhan-keluhan itu terkait banyaknya rupiah pribadi yang terkuras untuk keperluan dakwah, seperti fotokopi ini, fotokopi itu, infak wajib ini, infak wajib itu, konstribusi ini, konstribusi itu, dan lain-lain. Sehingga kadang kala dana bulanan yang dikirim orang tua tercinta lebih banyak dipakai untuk keperluan dakwah daripada keperluan pribadi dan kuliah (bagi mahasiswa). Selain itu, sebagai mahasiswa kita dituntut belajar dengan baik untuk memenuhi harapan diri fdan orang tua. Aktivis dakwah, seringkali mengalahkan dakwah ketika nilai UTS/UAS/kuis kecil, nilai IPK turun, tidak diperbolehkan masuk karena telat oleh dosen, dll.Ucapan yang sering terdengar yaitu, karena dakwahlah nilaiku kecil, gara-gara jadi panitia taujih aku tidak bisa masuk kuliah, dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan yang sering terdengar.
Akhi wa ukhti...! dakwah memang butuh pengorbanan dan hal ini telah dialami oleh pendahulu-pendahulu kita yang tidak hanya mengorbankan harta benda, tetapi nyawa sekalipun. Percayalah apapun yang antum berikan kepada dakwah ini, akan bernilai jual di hadapan Allah sehingga akhirnya Allah akan membelinya dengan kenikmatan yang luar biasa, yakni jannah-Nya.
 Sebagai aktivis dakwah, apakah aku telah melaksanakan amalan harian?
Akhi wa ukhti yang rindu akan surga-Nya...! Sebagai aktivis dakwah tentu kamu mempunyai kekuatan rohani, seorang aktivis akan senantiasa membekali diri dengan aktivitas-aktivitas ibadah harian, baik secara kuantitas, maupun kuliahnya. Ia tidak boleh lengah untuk terus memantau kondisi jiwanya karena hawa nafsu yang ada pada diri manusia selalu menyuruh pada keburukan dan godaan setan sangat banyak dan gencar.
Orang yang bijak adalah oarang yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan akan mendapatkan kebaikan dari Allah.
Di antara pesan Umar bin Khotab r.a. berbunyi: lakukanlah muhasabah terhadap dirimu sebelum kamu menghadapi hisab (di akhirat), timbanglah kebaikan dan keburukan yang ada pada dirimu sebelum kamu berhadapan dengan mizan (timbangan akhirat) dan bersiplah untuk pengadilan tertinggi.
Saudaraku yang cinta kepada Allah dan rasul-Nya...!
Di tengah kondisi kehidupan yang carut-marut sekarang, maka seorang aktivis dakwah harus membentengi diri agar tetap tegar dalam menghadapi jalan menuju ridho Allah swt. Dan agar ada kesiapan untuk memerangi arus jahiliyah yang sangat gencar di setiap lini kehidupan.
Bagaimana “membentengi diri”? Jawabanya adalah lakukan ibadah harian secara rutin dan senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Ibadah-ibdah harian yang dapat dilakukan seperti qiyamullail, shoum, tilawah Quran, ma’tsurat, sholat tepat waktu, infak, dll. Kadang kala ibadah-ibadah harian itu sering terlupakan oleh aktivis dakwah. Dengan dalih sibuk melakukan aktivitas dakwah, mereka merasa mempunyai hak untuk meninggalkan dhuha, qiyamullail, dzikir ma’tsurat, dan lain-lain atau menguarangi intensitasnya. Padahal Hasan al Banna memberikan nasihat kepada kita;
“maka seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban individu (ibadah) dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban sosial. Juga sebaliknya seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban sosial dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban individu, sibuk beribadah, dan berhubungan dengan Allah swt.
Menurut Satria Hadi Lubis, alasan inilah yang mungkin membuat rata-rata tingkat membaca al Quran para ikhwah tidak lebih dari setengah juz setiap harinya. Padahal manhaj tarbiyah mengajarkan kita menimal satu juz setiap harinya. Begitupun pada jenis ibadah lain seperti ma’tsurat, misalnya. Manhaj tarbiyah menghendaki agar ikhwah membaca dzikir tersebut minimal satu kali dalam sehari, tapi kenyataannya tidak banyak ikhwah yang melakukannya. Belum lagi ibadah lain yang sulit dilakukan, yakni qiyamul lail (sholat malam).
Ketahuilah Ya Saudaraku...! Qiyamullail adalah madrasah ruhiyah “sarana pembekalan” yang tiada banding, motor keimanan yang tidak tertandingi dan menjadi kebutuhan pokok. Ini sesuai dengan firman_Nya:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adaalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Q.S Al Muzammil: 6)
Sekarang jawablah pertanyan berikut:
Apakah di malam-malam yang telah berlalu, kamu telah melakukan qiyamullail sebagai nilai tambah agar Allah SWT mengangkat kamu pada tempat terpuji? Ataukah malam-malam itu kamu habiskan hanya untuk tidur? Padahal saat itu Allah yang Maha Agung turun ke bumi dan berseru, “Siapa yang memohon ampun niscaya Aku ampuni. Siapa yang berdoa niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta niscaya Aku beri.”
Masuklah kamu dalam golongan orang-orang yang disebutkan Allah swt dalam firman-Nya
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya, dengan rasa takut dan harap, dan mereka menfkah sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka.”
(Q.S. As Sajdah: 16)
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”(Q.S Adz Dzariyat: 17)
“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Az Zumar: 9)
Ath Thabrani meriwayatkan dalam al Kabir, dari Salman Al Farisi ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
“Hendaklah kamu melakukan qiyamullail karena itu merupakan perilaku orang-orang shalih sebelummu sebagai sarana mendekatkan sdiri kepada Tuhanmu, penghapus kesalahan, pencegah dari melakukan dosa dan pengusir penyakit dati tubuh.”
Ketika kamu berada di jalanan atau di tengah masyarakat, apakah kamu melakukan muraqabatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah swt)?
Pernahkah ketika pandangan matamu tertuju pada hal-hal yang diharamkan, kamu tundukkan pandnaganmu dan beristighfar, karena kamu tahu bahwa pandanagn p[ertama dibolehkan, sedangkan pandangan kedua dan seterusnya tidak diperbolehkan dan bahwa pandangan adlah ibarat anak panah iblis.
Pernahkah ketika seorang wqnita cantik lagi berpangkat menggodamu (berbuat zina, berbonccengan dalam kendaraan motor, atau jalan berdua atau mengobrol berdua yang bukan muhrim) lalu kamu menolaknya seraya berkata,
Aku takut kepada Allah” dan kamu bergumam “wahai tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripada tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk ( memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”(Q.S. (yusuf: 33)
 Apakah antum menyediakan waktu untuk menambah ilmu dan wawasan tentang pengetahuan islam dan umum?
Di tengah arus globalisasi sekarang seorang aktivis dakwah tidak boleh mengabaikan ilmu-ilmu kekinian. Jangan pernah bangga dengan ilmu yang sudah didapatkan, tetapi kita selalu untuk mencari ilmu karena dengan ilmulah kita dapoat melakukan dakwah ini secara baik.
 Terakhir, pernahkah kamu merenung tentang kebutuhan tubuhnu agar tubuhmu kuat dan mampu menempuh perjalanan jauh dan menanggung beban jihad yang berat?
Kamu harus paham bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah swt daripada orang mukmin yang lemah. Apakah antum sering berolahraga pagiu walaupun hanya 5 menit atau 10 menit? Apakah antum menjaga tubuh antum dengan makanan yang bergizi? Apakah tubuh antum sudah terhindar dari hal-hal yang merusak tubuh antum, seperti merokok, minum kopio, dan lain sebagainya. Saudaraku ketahuilah bahwa kamu harus mempersiapkan diri aghar sqqanggup menjadi seorang prajurit muslim, dengan segala konekuensinya.

Semoga Allah senantiasa melindungi orang-orang shalih dan membimbimg kita ke jalan yang benar. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

* dikutip sebagian besar dati buku Fathi Yakan dan Satria Hadi Lubis

Eka Kurniawan
Ketua Umum Fosi


Jumat, 07 Maret 2008

launching blog Fosi


Alhamdulillah wa syukurillah bersyukur pada-Mu ya Allah.....
Akhirnya blog Fosi terdaftar juga... Isinya masih ala kadarnya sih, maklum yo... baru dibuat, darurat, di hari jumat coz launchingnya hari Ahad... hehe^_^ ga papa ya??? InsyaAllah blognya bakal terus di-up date sesering mungkin.aamiin. Jangan lupa kunjungi blog ini kalau antum wa antunna lagi ngenet. Oh ya, yang punya karya n mo di-posting di sini silakan aja hubungi Bidang Syiar Fosi 2008.
Hamasah!!!! ALLAHU AKBAR!!!